SEJARAH LAWAK DAN SEJARAH SRIMULAT DI INDONESIA
Sejarah literatur perlawakan
Indonesia memang gelap. Beda dengan seni sastra, lukis, suara dan seni-seni
elitis lainnya. Di masa lalu, seni berbasis humor atau lelucon, domainnya
rakyat jelata. Para abdi atawa punakawan. Para bendara atau kaum priyayi
umumnya, harus jaim. Tampil angker supaya berwibawa. Tidak berwibawa, uang
kembali; eh, pamor sosialnya langsung jatuh.
Di masa
kini, memang ada sedikit kemajuan. Ada apresiasi. Entah itu karena pelawak
dihargai mahal atau masyarakat telah menyadari apa manfaat humor bagi kehidupan
sehari-hari. Yang jelas, di berbagai Negara maju, seni berbasis humor menjadi
primadona dan mendapatkan perhatian istimewa. Banyak pihak – multidisplin ilmu,
multiprofesi - tertarik menggali dan mencoba menguak manfaat yang ada di
baliknya.
Puncak-puncak
kronologi seni lawak Indonesia ini hanya salah satu versi untuk mencatat
jejak-jejak penting yang pernah terjadi agar sebagai bangsa kita tidak buta
sejarah. Dengan demikian kita tidak tergagap-gagap atau gampang kagetan ketika
merespon datangnya bebagai seni lawak yang berasal dari luar. Sebutlah stand up
comedy, misalnya. Ia mungkin dianggap “barang” baru, tapi apa iya? Apa kita tak
punya jejak terkait dengan seni sejenis itu? Mari melek sejarah perlawakan kita
sendiri.
Tersebutlah
nama Cak Markeso. Seniman ludruk tunggal dan garingan (tanpa iringan musik)
yang merintis karier sejak zaman kolonial, sekitar tahun 1949. Sebelumnya ia
pernah tergabung dalam sebuah grup yang bernama “Ludruk Cinta Massa”. Karena
suatu alasan, ia memilih keluar dari grup tersebut dan bersolo karier.
Ia kemudian mengamen dari kampung ke kampung di Surabaya. Bermonolog membawakan
salah satu cerita bila ada warga yang nanggap. Ia juga punya kemampuan untuk
mengiringi cerita dengan musik dari mulutnya sendiri. Cak Markeso tercatat
dalam sejarah seni ludruk karena celetukan-celetukannya sangat khas dan piawai
dalam memancing imajinasi penonton.
Agak
melompati waktu. Bentuk pertunjukan lawak tunggal sejenis stand up comedy juga
pernah ada di TVRI (antara tahun 1970 – 1980-an) dan cukup boom serta digemari
masyarakat. Tercatat misalnya nama pelawak Arbain, dengan logat Tegal-nya yang
kental ia sanggup membuat penonton tergelak-gelak karena joke-joke yang
dilempar sangat mengena dan tepat sasaran; apalagi ia juga mempunyai
keterampilan sulap yang memadai, sehingga acaranya di TVRI bertahan cukup lama.
Sementara
itu, meskipun tidak rutin, seniman serba bisa Kris Biantoro, pernah membawakan
“stand up comedy” di TVRI dengan sangat genuin dan prima, bahkan belum
tertandingi bila dibanding produk pertunjukan sejenis hingga saat ini.
Secara
parodis ia pernah tampil sendiri membawakan figur-figur terkenal waktu itu
lengkap dengan gaya busana, tata rias wajah dan aksen bicara, sebagian di
antaranya wanita; bergantian secara cepat. Bukan hanya gagasan fisik yang dia
garap, tetapi juga kedalaman materi yang dapat menimbulkan efek tawa; semua
terjaga, elegan dan berkualitas.
Dagelan
Mataram misalnya, memulai acaranya dengan memunculkan seorang pelawak yang
bermonolog; sebut saja misalnya Basiyo atau Junaedi; setelah ger-geran antara
lima hingga 10 menit, barulah format kelompok beraksi.
Di
pertunjukan ketoprak, ludruk, seni pertunjukan rakyat lain, juga punya
kecenderungan yang sama. Pada segmen dagelan, seorang pelawak membuka
komunikasi beberapa saat dengan penonton, kemudian disusul interaksi dengan
pelawak atau pemain lain.
Kilmaksnya,
bila kita renungkan lebih mendalam, apa yang dilakukan ki dalang (baik wayang
kulit maupun golek) nyaris punya kesamaan pola; ki dalang adalah seorang player
yang jenis pertunjukannya berada dalam disiplin atau genre seni yang tak jauh
dari tradisi stand up comedy. Individu menjadi pusat seluruh aliran
pertunjukan.
Secara bergurau, mungkin lebih tepat disebut sit up comedy, karena ki dalang
secara teknis melakukan pertunjukan sambil duduk.Tantangan membawakan karakter,
aksen dan jenis suara yang berbeda-beda untuk tokoh yang berbeda-beda, jelas
jauh lebih sulit daripada stand up comedy biasa.
Kembali
ke sejarah lawak nasional
Terdapatlah nama yang tak asing lagi bagi kita semua, Srimulat. Grup ini
pertama-tama didirikan oleh RA Srimulat dan Teguh Raharjo pada tahun 1950
dengan nama Gema Malam Srimulat . Pada awalnya Gema Malam Srimulat adalah
kelompok seni keliling yang melakukan pentas dari satu kota ke kota lain dari
Jawa Timur sampai Jawa Tengah.
Srimulat
menyajikan style pertunjukannya secara khas. Ada berlapis-lapis segmen. Musik,
tari dan lawak. Segmen lawak ini makin mengerucut dan menajam, sejak grup ini
rutin tampil di TVRI tahun-tahun 1980-an. Hal yang sama terulang ketika tahun
1990-an tampil di Indosiar. Yang menarik dari grup ini untuk dicatat adalah
Srimulat-lah peletak dasar pertunjukan lawak tradisional. Fakta itu sulit
terbantahkan karena migrasi dari pola pertunjukan opera musik, tari dan
lain-lain yang kolosal dan megah ke hanya satu yang compact tapi fungsional:
lawak, dilakukan secara transformative dan smooth. Tidak ada kudeta atau
paksa-paksaan. Natural.
Nah, ada
grup lawak berikutnya yang tak kalah unik dan top, yaitu Trio Los Gilos.
Anggotanya Mang Udel, Mang Cepot dan Bing Slamet. Dibentuk tahun 1958 dan lebih
praktis lagi, karena langsung mengacu ke pertunjukan lawak an sich, sangat
berkemungkinan menjadi model rujukan bagi grup lawak generasi berikutnya.
Trio Los Gilos juga punya keunikan lain. Dia terlahir terlalu cepat mendahului
zaman. Bayangkan, pada zaman dan tahun itu, pola lawakannya sudah sangat
modern, berbasis naskah atau skenario. Benar-benar sebuah naskah yang sudah
bunyi. Sudah terbaca kekuatan kelucuannya dari hanya melihat teks saja, apalagi
kalau naskah itu dimainkan.
Fakta ini
sangat kontras, di masa kini saja, tak banyak grup lawak atau pelawak yang
mendasarkan tampilnya dengan mengacu pada konsep teks, kecuali di pertunjukan
TV atau stand up comedy. Secara umum, pelawak lebih merasa nyaman dengan
mengandalkan spontanitasnya. Bayangkan, pada tahun awal pertumbuhan lawak yang
masih begitu belia, Trio Los Gilos telah mendisiplinkan dalam format yang
begitu maju dan terlalu cepat mendahului zamannya. Mungkinkah format demikian
karena pengaruh dari luar? Siapa dapat menafikan peran The Three Stooges,
Abbott – Costello, Laurel – Hardy, Charlie Chaplin dan lain-lainnya? Grup-atau
lawak perorangan dari luar ini mengalami masa jayanya di tahun-tahun 1930-an.
Termasuk masa-masa jayanya trend lawak kasar dan banal, merusak property dan
adegan ancur-ancuran yang efektif memancing tawa pada masanya.
Terakhir fenomena Bing Slamet. Tokoh multitalenta ini memang tiada duanya.
Sebagai pelawak, ia menjadi model sepanjang masa bagi generasi penerusnya,
khususnya dalam soal keterampilan berspontanitas. Karena potensi dalam hal itu
sangat besar, maka Bing tak kuat bertahan di Trio Los Gilos. Ia keluar dari
grup itu dan memilih bersolo karier.
Bing
merajai dan memesona penggemarnya bukan hanya di dunia lawak. Di seni suara,
film komedi dan seni perform lainnya. Oleh karena itu ia selalu menyebut
dirinya seorang entertainer. Bing benar-benar seniman langka, entah berapa
puluh tahun lagi negeri ini memiliki seniman dengan kompetensi raksasa semacam
dia.
Moral kronologi ini, hanya ingin mengingatkan kepada seluruh penggemar lawak
atau bahkan para pelawak itu sendiri, tak perlu saling klaim siapa yang paling
dulu “berjasa” memperkenalkan seni lawak ini, seni lawak itu, apalagi lalu
menganggap diri sendiri sebagai legenda demi pencitraan atau pengakuan atau
apalah namanya. Kharisma sesungguhnya adalah pengakuan tulus yang datang dari
pihak lain. Bukan dari diri sendiri atau kelompoknya. Dan sejujurnya…seperti
kata pepatah, tak ada yang baru di bawah matahari. Peace!
Catatan:
Pelawak
perorangan atau grup sesudah periode tersebut adalah pelanjut tradisi dari yang
tersebut di atas dan itu tak mengurangi eksistensi maupun kehormatannya, karena
sebaik-baiknya pelawak adalah pelawak yang telah mendedikasikan hidup dan
kehidupannya demi kebajikan seni lawak dan kemanfaatan yang besar bagi masyarakat
secara umum.
Comments
Post a Comment